Modern Airport: Changi
Trip Asia ini dimulai pada minggu, 29 April jam 10 pagi. Penerbangan menuju Hong Kong ini transit di Singapura selama setengah hari. Ini konsekwensi menggunakan budget airline seperti Jetstar. Penerbangan menuju Singapura memakan waktu 3 jam. Tiba di bandara Changi jam 13 waktu setempat.
Menurutku, Changi adalah bandara yang cozzy warm friendly. Semua informasi terpampang dengan jelas dan design serta tata letaknya dipikirkan dengan benar. Ini adalah kali kedua aku berada di Changi untuk transit. Dan juga merupakan kali pertama untuk masuk ke kota Singapura.
Ritual sebelum masuk kota adalah melewati imigrasi yang tentunya akan ditanya, mengapa datang ke Singapura, dan berapa lama akan tinggal. Dengan alasan untuk transit dan akan lanjut terbang besok pagi, membuat petugas imigrasi percaya dan membubuhkan cap imigrasi. Alasan ini bukan hasil rekayasa, karena ini adalah fakta naik budget airline.
Dari terminal penumpang, aku menggunakan Skytrain yang akan membawa sampai terminal T2 untuk berganti MRT. Penggunaan MRT ini cukup praktis, karena kita akan diantar menuju lokasi tanpa takut kesasar dengan harga yang wajar. Sebelumnya, aku mencari tiket EZ Link. Setelah mempertimbangkan, pilihan jatuh ke One Day Pass untuk turis. Ini adalah pilihan yang cukup masuk akal. Hanya perlu membaway 20 SGD. Biaya deposit kartu adalah 10 SGD dan sisanya untuk biaya bus dan kereta. Keuntungannya, kita bisa menggunakan kartu ini untuk menjelajah Singapura kemana saja. Tapi tidak untuk masuk Sentosa Island menggunakan kereta Sentosa Express.
Orang Cerdas Pilih MRT
Sebelum keluar ke kota, aku menyempatkan diri untuk mencari info what to see melalui fasilitas internet gratis di bandara. Sangat membantu, dan jadilah itinerary dadakan. Yang dicari pertama adalah tempat untuk sighseeing dan kedua adalah tempat makan murah. Pilihan kemudian jatuh untuk menyeberang ke Sentosa Island via Vivo Mall. MRT menuju Vivo tidaklah susah. Tinggal pelajari di stasiun mana saja harus pindah dan pindah ke jalur mana. Semua informasi terpampang dengan jelas. Tujuan pemberhentian MRT adalah Harbour Front.
Stasiun MRT tersebut berada di bawah Vivo mall. Penataan kota yang cerdas aku rasa. Sehingga membuat orang untuk menuju tempat perbelanjaan tidak perlu membawa kendaraan pribadi. Just take a train. Sepanjang perjalanan, aku disuguhi pemandangan kota yang tertata rapi seperti di Eropa. Bedanya, di setiap sudut pasti dengan mudah ditemukan kamera CCTV. Di Singapura menjadi pantangan untuk merokok sembarang tempat maupun meludah seenaknya karena kamera CCTV are watching on you. Tidak itu saja, mengambil video di stasiun MRT juga dilarang. Baru tahu.. heeh...
Berada di Vivo Mall yang diburu pertama adalah makan siang, karena sudah lapar sangat. Pilihan jatuh ke food court yang menawarkan paket makan seharga 4.50 SGD. Menu ini adalah black paper fish. Cukup mengganjal juga untuk memulai hari di Singapura.
Ritual perjalanan kemudian dilanjutkan untuk mencari informasi menuju ke Sentosa. Uniknya, mall ini terintegrasi jadi satu dengan ferry ke Batam, stasiun MRT, shelter bus dan sebuah mall. Lengkap sudah.
Menghabiskan waktu di atap Vivo mall merupakan pilihan dadakan. Karena tertarik dengan hilir mudik aktitifas pelabuhan yang rapi dan jauh dari kesan kumuh dan kotornya pelabuhan seperti Jakarta. Yang membuat hati betah berlama di sini adalah adanya garden roof yang selain ada taman juga dilengkapi dengan kolam air untuk bermain atau sekedar merendam kaki. Kolam ini tidak untuk berenang karena memang dangkal. Kedalaman sekitar 30 - 50 cm. Penataan lokasi ini sungguh menakjubkan. Jalan yang digunakan perpaduan dari boardwalk dan semen.
Setelah puas melepas lelah dan merendam kaki. Penjelajahan menuju Sentosa Island pun berlanjut. Menuju lokasi stasiun Sentosa Express dan harus menggesek kartu. Ternyata tidak bisa aku lewat. Di monitor tertulis credit tidak cukup. Ups.. apakah ada yang salah. Segera aku menuju ke stasiun MRT terdekat dan menanyakan hal ini. Dari informasi mereka, ternyata One Day Pass yang aku bawa tidak bisa dipakai ke Sentosa Express. Well, OK deh. Berhubung jalan cukup jauh dari stasiun MRT yang ada di level basement dan stasiun Sentosa Express di Level 3 membuat aku mengalihkan tujuan ke Little India.
Rencananya saat itu hendak menjelajah di sekitar Chinatown, Kampung Bugis. Dilihat dari peta, lokasi tempat belanja ini tidak jauh. Terpikir untuk mencoba jalan dengan carrier 11 Kg di bahu. Ups.. sepertinya ini bukan pilihan yang tepat. Tidak lama setelah naik MRT yang dengan jalur memutar cukup jauh, membuat rencana penjelajahan ini harus dikoreksi lagi. Jadilah hanya Little India saja dan mencari makan malam sebelum pulang ke Changi.
Little India to Hostel Changi
Mendengar namanya, tempat ini tentunya banyak dihuni orang etnis India. Dan memang begitu adanya. Tekka Market yang menjual berbagai barang ala India juga berdiri tidak jauh dari stasiun MRT. Mencari makan di dekat pasar adalah pilihan yang tepat. Selain tentu harganya terjangkau, aku tidak harus menggendong tas berjauh-jauh.
Pilihan tiba di sebuah kedai yang memampangkan harga ayam goreng sekitar 4.50 SGD. Harga yang masih masuk akal. Ditemani sebotol bir tanggung seharga 5.70 SGD. Sangat cocok untuk menutup hari di Singapura. Setelah perut terisi, aku harus bergegas kembali ke Changi, karena One Day Pass yang aku miliki hanya bisa dipakai sampai jam 23. Dan perkiraan aku, 1 jam pasti akan tiba di Changi.
Tiba di stasiun MRT, klaim deposit kartu seharga 10 SGD dan pergi menuju Skytrain untuk bermalam di Changi untuk mengejar penerbangan besok pagi jam 06.30. Pengelola bandara sepertinya sudah mempertimbangkan tempat istirahat bagi para penumpang. Terbukti untuk mencari tempat istirahat ini tidaklah susah. Berbagai icon bergambar orang duduk dengan kursi malas terlihat jelas di beberapa lokasi. Pilihan saat itu jatuh pada rest area yang berada di lantai 2 yang menghadap langsung ke apron. Berbekal dengan sleeping bag membuat malam dingin karena AC itu bisa dilalui dengan sukses.
No comments:
Post a Comment