Monday, 30 April 2012

Half Day in Singapore


Modern Airport: Changi

Trip Asia ini dimulai pada minggu, 29 April jam 10 pagi. Penerbangan menuju Hong Kong ini transit di Singapura selama setengah hari. Ini konsekwensi menggunakan budget airline seperti Jetstar.  Penerbangan menuju Singapura memakan waktu 3 jam. Tiba di bandara Changi jam 13 waktu setempat. 

Menurutku, Changi adalah bandara yang cozzy warm friendly. Semua informasi terpampang dengan jelas dan design serta tata letaknya dipikirkan dengan benar. Ini adalah kali kedua aku berada di Changi untuk transit. Dan juga merupakan kali pertama untuk masuk ke kota Singapura.

Ritual sebelum masuk kota adalah melewati imigrasi yang tentunya akan ditanya, mengapa datang ke Singapura, dan berapa lama akan tinggal. Dengan alasan untuk transit dan akan lanjut terbang besok pagi, membuat petugas imigrasi percaya dan membubuhkan cap imigrasi. Alasan ini bukan hasil rekayasa, karena ini adalah fakta naik budget airline.

Dari terminal penumpang, aku menggunakan Skytrain yang akan membawa sampai terminal T2 untuk berganti MRT. Penggunaan MRT ini cukup praktis, karena kita akan diantar menuju lokasi tanpa takut kesasar dengan harga yang wajar. Sebelumnya, aku mencari tiket EZ Link. Setelah mempertimbangkan, pilihan jatuh ke One Day Pass untuk turis. Ini adalah pilihan yang cukup masuk akal. Hanya perlu membaway 20 SGD. Biaya deposit kartu adalah 10 SGD dan sisanya untuk biaya bus dan kereta. Keuntungannya, kita bisa menggunakan kartu ini untuk menjelajah Singapura kemana saja. Tapi tidak untuk masuk Sentosa Island menggunakan kereta Sentosa Express.

Orang Cerdas Pilih MRT

Sebelum keluar ke kota, aku menyempatkan diri untuk mencari info what to see melalui fasilitas internet gratis di bandara. Sangat membantu, dan jadilah itinerary dadakan. Yang dicari pertama adalah tempat untuk sighseeing dan kedua adalah tempat makan murah. Pilihan kemudian jatuh untuk menyeberang ke Sentosa Island via Vivo Mall. MRT menuju Vivo tidaklah susah. Tinggal pelajari di stasiun mana saja harus pindah dan pindah ke jalur mana. Semua informasi terpampang dengan jelas. Tujuan pemberhentian MRT adalah Harbour Front.

Stasiun MRT tersebut berada di bawah Vivo mall. Penataan kota yang cerdas aku rasa. Sehingga membuat orang untuk menuju tempat perbelanjaan tidak perlu membawa kendaraan pribadi. Just take a train. Sepanjang perjalanan, aku disuguhi pemandangan kota yang tertata rapi seperti di Eropa. Bedanya, di setiap sudut pasti dengan mudah ditemukan kamera CCTV. Di Singapura menjadi pantangan untuk merokok sembarang tempat maupun meludah seenaknya karena kamera CCTV are watching on you. Tidak itu saja, mengambil video di stasiun MRT juga dilarang. Baru tahu.. heeh...

Berada di Vivo Mall yang diburu pertama adalah makan siang, karena sudah lapar sangat. Pilihan jatuh ke food court yang menawarkan paket makan seharga 4.50 SGD. Menu ini adalah black paper fish. Cukup mengganjal juga untuk memulai hari di Singapura.

Ritual perjalanan kemudian dilanjutkan untuk mencari informasi menuju ke Sentosa. Uniknya, mall ini terintegrasi jadi satu dengan ferry ke Batam, stasiun MRT, shelter bus dan sebuah mall. Lengkap sudah. 

Menghabiskan waktu di atap Vivo mall merupakan pilihan dadakan. Karena tertarik dengan hilir mudik aktitifas pelabuhan yang rapi dan jauh dari kesan kumuh dan kotornya pelabuhan seperti Jakarta. Yang membuat hati betah berlama di sini adalah adanya garden roof yang selain ada taman juga dilengkapi dengan kolam air untuk bermain atau sekedar merendam kaki. Kolam ini tidak untuk berenang karena memang dangkal. Kedalaman sekitar 30 - 50 cm. Penataan lokasi ini sungguh menakjubkan. Jalan yang digunakan perpaduan dari boardwalk dan semen.

Setelah puas melepas lelah dan merendam kaki. Penjelajahan menuju Sentosa Island pun berlanjut. Menuju lokasi stasiun Sentosa Express dan harus menggesek kartu. Ternyata tidak bisa aku lewat. Di monitor tertulis credit tidak cukup. Ups.. apakah ada yang salah. Segera aku menuju ke stasiun MRT terdekat dan menanyakan hal ini. Dari informasi mereka, ternyata One Day Pass yang aku bawa tidak bisa dipakai ke Sentosa Express. Well, OK deh. Berhubung jalan cukup jauh dari stasiun MRT yang ada di level basement dan stasiun Sentosa Express di Level 3 membuat aku mengalihkan tujuan ke Little India. 

Rencananya saat itu hendak menjelajah di sekitar Chinatown, Kampung Bugis. Dilihat dari peta, lokasi tempat belanja ini tidak jauh. Terpikir untuk mencoba jalan dengan carrier 11 Kg di bahu. Ups.. sepertinya ini bukan pilihan yang tepat. Tidak lama setelah naik MRT yang dengan jalur memutar cukup jauh, membuat rencana penjelajahan ini harus dikoreksi lagi. Jadilah hanya Little India saja dan mencari makan malam sebelum pulang ke Changi.

Little India to Hostel Changi

Mendengar namanya, tempat ini tentunya banyak dihuni orang etnis India. Dan memang begitu adanya. Tekka Market yang menjual berbagai barang ala India juga berdiri tidak jauh dari stasiun MRT. Mencari makan di dekat pasar adalah pilihan yang tepat. Selain tentu harganya terjangkau, aku tidak harus menggendong tas berjauh-jauh.

Pilihan tiba di sebuah kedai yang memampangkan harga ayam goreng sekitar 4.50 SGD. Harga yang masih masuk akal. Ditemani sebotol bir tanggung seharga 5.70 SGD. Sangat cocok untuk menutup hari di Singapura. Setelah perut terisi, aku harus bergegas kembali ke Changi, karena One Day Pass yang aku miliki hanya bisa dipakai sampai jam 23. Dan perkiraan aku, 1 jam pasti akan tiba di Changi.

Tiba di stasiun MRT, klaim deposit kartu seharga 10 SGD dan pergi menuju Skytrain untuk bermalam di Changi untuk mengejar penerbangan besok pagi jam 06.30. Pengelola bandara sepertinya sudah mempertimbangkan tempat istirahat bagi para penumpang. Terbukti untuk mencari tempat istirahat ini tidaklah susah. Berbagai icon bergambar orang duduk dengan kursi malas terlihat jelas di beberapa lokasi. Pilihan saat itu jatuh pada rest area yang berada di lantai 2 yang menghadap langsung ke apron. Berbekal dengan sleeping bag membuat malam dingin karena AC itu bisa dilalui dengan sukses.

Old and New Hong Kong


Menerobos Awan Hitam Changi

Setelah menjelajah Singapura selama 12 jam, perjalan menuju Hong Kong dimulai dari Changi. Menginap di Changi adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan malam tanpa harus menuju pusat kota dan menyewa kamar untuk istirahat. Di level 2 terminal 1 Changi, fasilitas ini sudah disiapkan dengan baik. Tidak senyaman tempat tidur di rumah, tapi cukup untuk tempat melepas lelah.

Jam 05.30, sudah bersiap diri sekenanya dan menuju gate C13 untuk boarding ke pesawat. Saat diperiksa sekuriti bandara, kunci mini peralatan sepeda yang ada di dalam tas dideteksi sebagai benda berbahaya, karena memiliki ujung lancip. Berdebat kusir sekenanya, dengan rela hati, kunci itu harus disita di Changi, which is aku membelinya saat di Jerman. Dan I have to say goodbye forever :)

Tanpa menunggu lama, penumpang segera boarding menuju Airbus Jetstar yang akan membawa ke Hong Kong. Penerbangan menuju Hong Kong disambut dengan hujan lebat di Changi. Saat take off, pesawat harus menerobos kepungan air dan awan tebal hitam di atas landasan pacu. Setelah menyelesaikan proses yang mendebarkan itu, ternyata langit di atas Changi cerah ceria. Penerbangan ditempuh dalam waktu hampir 4 jam dan ini adalah kesempatan yang cocok untuk melanjutkan mimpi indah.

Ni Hao Hong Kong

Tidur lelap itu terbangun ketika ada pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan segera mendarat di Hong Kong International Airport. Beberapa saat sebelum mendarat pesawat berguncang karena ada turbulensi kecil, layaknya sepeda motor yang melintas di atas polisi tidur di jalan kampung yang berjajar rapat siap menjebak mangsanya.

Pendaratan di Hong Kong tidak kalah serunya dari take off Changi. Saat mendarat ada angin samping dari sisi kiri pesawat yang membuat pesawat sedikit mengayun. Dari posisi duduk 22 F yang bisa melihat langsung ke luar jendela, terlihat pesawat mendekati landasan dengan posisi bergoyang. Agak seru juga mendapat pengalaman seperti ini, karena ternyata pesawat sebesar Airbus tidak mampu melawan benda yang namanya angin. Thank to God, pendaratan itu berjalan dengan lancar dan mendarat sempurna.

Penumpang menuju terminal kedatangan dengan dijemput dengan sebuah bus yang unik. Penumpang naik melalui sisi kanan bus, dan kemudian akan turun melalui sisi depan bus. Jadi muka bus ini ada pintunya, dan layaknya kapal feri saja yang mengeluarkan muatannya.

Menuju terminal adalah saat yang mendebarkan, karena harus melalui pintu imigrasi. Pertanyaan yang diajukan oleh petugas adalah untuk apa mengunjungi Hong Kong dan berapa lama akan tinggal. Standard seperti itu, tapi ternyata butuh ketenangan untuk menjawabnya.

Terminal Hong Kong masih kalah jika dibandingkan dengan Changi. Di HIA, terminal penumpang ini terasa modern dingin, dengan nuansa hitam, abu-abu dan silver. Menurut aku lebih nyaman terminal Changi, lebih hangat.

Berhasil keluar dari imigrasi. PR selanjutnya adalah reload Octopus card yang didapat dari Agung untuk kebutuhan mobilitas dengan MRT dan bus serta mencari Mobile SIM Card. Reload Octopus card tidak terlalu susah, karena dapat langsung dilakukan di counter tiket kereta di pintu keluar imigrasi. Sedangkan untuk mencari mobile card, harus sedikit berolah raga mencari toko yang bernama 7 Eleven. 

Setelah mobile card terhubung, akhirnya bisa SMS Yogi bahwa aku sudah di Hong Kong dan menuju ke kampus Polytechnic University. Berbekal peta gratis dari bandara, terlihat dengan jelas jalur MRT yang harus ditempuh. Menggunakan MRT harus transit di Shin Yi kemudian Nam Cheong dan baru berganti jalur menuju kereta menuju Hung Hom. Kampus Poly U terletak berseberangan dengan Poly U.

Sistem MRT Hong Kong sangat menakjubkan. Kondisi kereta yang nyaman dan informasi yang terpampang dengan jelas, sehingga memudahkan pendatang untuk menuju lokasi yang dicari.

Menjelajah Sisi Eropa

Hong Kong sebagai Special Administrative Region memiliki keunikan tersendiri. Nuansa Asia dan Inggris masih terasa kental di beberapa sudut kotanya. Penjelajahan ini dimulai dari menyusuri Avenue of the Star yang berada di tepi selat yang memisahkan Kowloon dan Hong Kong. Kampus Poly U berada di pulau Kowloon. Yang sebenarnya di sebut Hong Kong itu adalah bagian pulau lain yang dipisahkan oleh sebuah selat. Di sisi tersebut dikenal sebagai sisi kota tua. Beberapa sosok bangunan tua Eropa dan gaya China berpadu akur. Dari sisi Kowloon, berbagai nama perusahaan besar seperti HSBC, Samsung dan Lippo terpampang asyik di saat matahari terbenam. 

Sisa sore itu, kami habiskan dengan menikmati pemandangan Hong Kong beserta selat dan Avenue nya ditemani sebotol bir Tsingtao. Lengkap sudah pembuka hari pertama di Hong Kong.

Perjalanan itu kemudian dilanjutkan menyebrangi selat menuju pulau Hong Kong dengan tiket kapal seharga 6 HKD pulang pergi. Sisi Hong Kong ini memberikan pemandangan Eropa mini. Mengingatkan kenangan ketika berada di Belanda dengan apartemen dan gang kecilnya.

Fast Food ala Hong Kong

Menjelajah pulau ini tidak lengkap kalau tidak mencoba restoran lokal yang kami tidak tahu namanya karena bertuliskan mandarin. Restoran ini terletak di Gough Street. Sepanjang jalan ini, aku melihat sisi lain Hong Kong. Sebuah kota yang memang masih menyisakan sisi tradisional dengan pasar basahnya khas Asia, dan cafe kecil khas Eropa. 

Makan di resto ini harus antri. Resto tidak terlalu besar, tapi para penggemarnya lumayan banyak. Seporsi makan kari sapi dipatok 30 HKD dan segelas teh tarik panas. Ini adalah sajian pas untuk mengisi perut yang belum terisi nasi sejak dari Singapura.

Saking banyaknya yang antri, para pengunjung makan harus dalam tempo cepat. Dan tentunya makanan juga disajikan dalam hitungan kurang dari 5 menit. Saking cepatnya, sebelum selesai makan, bill sudah disodorkan. Selesai makan, tidak seperti layaknya resto Indonesia yang bisa bersantai dan ngobrol dahulu. Kita harus segera pergi secepat mungkin. Ini baru yang disebut resto fast food. Semua harus dilakukan serba cepat. Bahkan sebelum makanan sempat turun dari tenggorokan. Uniknya, ketika makan, kita berada satu meja dengan orang yang tidak dikenal.

Santap malam kari menutup malam perdana di Hong Kong. Perjalanan pulang menuju apartemen Yogi, diputuskan untuk menggunakan bus. Sekalin mencoba bus Hong Kong. Ternyata secara model dan pengoperasian, tidak beda dengan bus Eropa. Ketika naik, orang bisa membayar menggunakan kartu Octopus atau membayar cash seharga 10 HKD. Bedanya, bus yang berseliweran di jalan raya ini adalah bus tingkat. Yang mana ini adalah warisan Inggris banget. Tentunya dengan model modern.

Saturday, 17 March 2012

My Weekend: Mulung Sampah, Tanam Pohon dan Gowes

Sabtu, 17 Maret 2012. Jadwal weekend kali ini adalah main ke Bogor. Sengaja pergi ke Bogor karena ada ulang tahun Komunitas Peduli Ciliwung Bogor di Sempur. Niat pergi ke Bogor sudah dipersiapkan secara mental sejak sehari sebelumnya, tapi tidak dengan fisik.

Acara di Sempur, rencana dimulai jam 08.00. Menurut perhitungan, kalau gowes dari Permata Hijau menuju stasiun kereta Manggarai, maka saya perlu bangun pagi subuh jam 05.00. Untuk melancarkan niat ini, alarm HP sudah diset berdering jam 05.00. Namun apa daya, karena tidurnya saja sudah jam 01.00 dini hari, sepertinya gelagat akan kesiangan pun semakin bertambah besar. Dan dugaan itu benar-benar terjadi, saya bangun jam 07.00. Berarti sudah telat 2 jam khan? Hebatnya, jarak tempuh dari Permata Hijau menuju Manggarai dengan gowes memakan waktu sekitar 1 jam. 

Permata Hijau - Stasiun Bogor

Gowes dari rumah menuju stasiun Manggarai membutuhkan nyali besar. Bukan karena jaraknya, tapi karena sejak berangkat belum sarapan sama sekali. Untuk tenaga gowes, hanya mengandalkan satu gelas teh panas manis.

Jalanan pagi itu terasa lancar normal. Dari rumah berangkat jam 07.30 dan setengah jam kemudian sudah tiba di stasiun. Langsung deh bergegas menuju loket karcis Communter Line jurusan Bogor. 

Melihat jadwal keberangkatan kereta, sudah berharap bisa dapat kereta jam 08.15 atau paling tidak jam 08.30. Tidak disangka, ternyata kereta yang ditunggu datang 1 jam kemudian. Jadilah menunggu di stasiun dengan do nothing. Sebenarnya ada 2 kereta yang sudah diberangkatkan ke Bogor. Tapi sayang saja dengan tiket Commuter Line yang sudah dibeli Rp 14.000,- karena sepeda dihitung juga. Seandainya Commuter Line sudah ada gerbong khusus sepeda seperti di Belanda tentu akan menyenangkan bawa sepeda di kereta. Walaupun harus membayar double tidak masalah. Yang penting sepeda yang dibawa tidak mengganggu para penumpang yang naik dan turun kereta.

Tiba di Citayam, dapat teman gowes menuju Sempur. Kenalkan namanya Alfred bersama sepeda lipatnya. Beruntung dia bawa sepeda lipat, jadi tidak perlu pusing memposisikan sepeda di dalam kereta. Tinggal lipat dan taruh di pojokan dekat dengan pintu. Beres deh. 

Beberapa saat kemudian, kereta tiba di tujuan akhir, stasiun Bogor. Kedatangan kami disambut rintik hujan. Wew.. ini di luar prediksi. Dari rumah tidak membawa jas hujan. Tapi masih ada untungnya juga. Cover bag ada di tas. Maka untuk melindungi barang berharga di dalamnya, cover bag pun sudah terpasang sempurna di tas dan dengan mantap menyambut sang gerimis.

Menuju Sempur

Ini adalah kali pertamanya saya gowes di Bogor. Perjalanan sejak keluar stasiun sudah menantang. Pasalnya kami harus melawan arus gerombolan angkot hijau untuk menuju Taman Topi. Ini adalah cara yang paling mudah, tapi tetap harus waspada.

Rintik hujan tidak begitu deras membuat hawa kota Bogor sedikit dingin. Suasananya enak sekali. Cocok untuk bersepeda. Setelah melewati Taman Topi, tiba di lampu merah, kami mengarah ke kiri. Melintasi sisi depan Istana Bogor. Lokasi kegiatan sebenarnya tidak jauh dari Kompleks Kebun Raya dan Istana Bogor. Jadi, naik sepeda adalah pilihan yang tepat untuk menikmati perjalanan ini.

Setelah melalui lampu merah Istana Bogor, sepeda kami semakin melaju karena kontur jalan yang menurun menuju jembatan Jalak Harupat. Kegiatan KPC Bogor berada di dekat Kelurahan Sempur. Maka segera setelah melewati lapangan Sempur, kami menyusuri jalan tepi Ciliwung.

Dari Plastik Sampai Potongan Tulang

Perjalanan untuk menemukan lokasi kegiatan KPC, bisa dibilang tidak terlalu sulit. Dari jauh sudah terlihat kerumunan orang yang berada di tepi Ciliwung. Tiba di lokasi, ternyata acara pembukaan baru saja selesai. Acara ini adalah peletakan batu pertama tempat pengelolaan plastik Kelurahan Sempur.

Persiapan mental berikutnya adalah turun ke tepian Ciliwung dan mulai mulung sampah. Jangan kira mulung ini kita pakai alat seeprti pengait. Di acara mulung ini yang dibutuhkan hanya sepasang tangan pemberian Pencipta dan beberapa lembar karung. Cukup sederhana bukan?

Peserta mulung sampah ini peminatnya lumayan banyak. Ada sekitar 15 orang ikut serta mengambil sampah non organik yang berada di tepi Ciliwung. Berbagai jenis sampah dapat kita temukan di sini. Ada yang berupa plastik kemasan, pakaian, sepatu, batang tanaman hingga potongan tulang. Ups.. ada potongan tulang? Iya.. jangan salah, di Ciliwung kita bisa menemukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Contohnya ya, potongan tulang. Sepertinya pemilik tulang ini sebelumnya adalah sapi. Perkiraan saja dari bentuknya yang besar.

Para Pemulung Sampah

Barang Bukti Potongan Tulang


Bisa Buka Tambal Ban Tepi Ciliwung


Berkarung-karung sampah beragam jenis bercampur lumpur dan air berhasil dikarungkan dalam tempo 1 jam. Karung-karung yang terkumpul ini kemudian dibawa ke atas untuk selanjutnya akan diangkut oleh Dinas Kebersihan Bogor untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya yang layak. Mulung sampah kali ini, kami berhasil mengumpulkan 20 karung yang beratnya setiap karung rata-rata 25 Kg. Jadi berapakah total sampah yang telah dikumpulkan hari ini?

Makan Tumpeng dan Curhat Ciliwung

Perayaan ulang tahun KPC Bogor yang ke 4 tahun ini cukup berkesan, karena kami merayakannya di tepi Ciliwung lengkap dengan tumpeng nasi kuningnya. Seperti acara ulang tahun lainnya, acara dimulai dengan berdoa dan dilanjutkan dengan memakan bersama tumpeng yang sudah disiapkan. Pada kesempatan ini, Hapsoro sebagai perwakilan KPC Bogor memberikan potongan pertama kepada Ko Asun sang provokator Ciliwung.

Seusai formalitas ini, segeralah alas makan digelar untuk makan bersama dengan para peserta. Kali ini kita makan di atas lembaran daun pisang utuh yang dijadikan alas makan bersama. Menunya cukup beragam, ada nasi kuning, sambel goreng teri, telur rebus  sampai ke jajanan tradisional seperti singkong, jagung, pisang dan ubi. Sesi makanan kali ini terasa unik, karena terbatasnya tempat makan, jadi peserta yang akan mencicip hidangan harus dibagi ke dalam beberapa gelombang. Tidak ada yang mengatur sih, tapi sepertinya sudah bisa berjalan dengan sendirinya :)

Perhelatan ini semakin lengkap dengan adanya sesi Curhat Ciliwung. Pesertanya mulai dari Bogor, Depok, dan Jakarta. Pokok bahasan kali ini adalah tentang kasus pengurugan sempadan Ciliwung Kali Mulya yang dilakukan oleh pengembang Taman Anyelir 3 yang telah dibuktikan bersalah karena belum memiliki IMB tapi sudah berani membangun dan lagi mengubah bentuk sungai lagi. Amazing kalau Tukul bilang.

Curcol Ciliwung Mode ON


Tanam Beringin Tanam Masa Depan



Dalam waktu dekat ini Komunitas Ciliwung Depok Kali Mulya, akan kembali bergerak untuk mendekati instansi pemerintah terkait yang berwenang atas pengusutan kasus lingkungan Taman Anyelir 3 ini. Bentuknya seperti apa, wah.. sepertinya masih rahasia. Belum ada bocoran dari dapurnya :)

Diskusi ditutup dengan penanaman bibit beringin di tepian Ciliwung. Beringin ini nantinya akan memperkuat tebing sungai. Berfungsi sebagai tanggul sungai alami dalam beberapa puluh tahun ke depan. Hebatnya, penanaman bibit beringin ini juga melibatkan anak-anak. Alangkah indahnya jika generasi muda kita sudah dikenalkan pada semangat pelestarian lingkungan seperti ini.

Mencicip Rute Bogor Jakarta dengan Sepeda

Perjalanan kembali ke Jakarta kali ini benar-benar menantang. Bukannya naik kereta seperti rute berangkat, tapi gowes dari Sempur hingga Permata Hijau. Ini adalah rute terjauh kedua setelah rute Permata Hijau - Ciputat. 

Rute panjang ini akan ditempuh dengan Alfred bersama selinya dan saya bersama MTB. Perjalanan ini menempuh jarak 50 Km. Tentunya dengan rute yang belum pernah dijajal sebelumnya dengan cara gowes.

Semi touring sepeda ini ternyata menyenangkan. Selama perjalanan ada saja hal menarik yang sangat disayangkan untuk dilewatkan. Seperti contoh trotoar yang ideal untuk pejalan kaki, kami temukan di depan museum PETA di Jalan Sudirman Bogor. 

Memasuki arah ke stasiun Cilebut, kami disuguhkan pemandangan yang cukup menarik. Pengembang proyek perumahan yang memanfaatkan tepian sungai untuk lahan perumahan mereka. Apakah ini akan menjadi seperti kasus Taman Anyelir 3 session 2? 


Tidak jauh dari lokasi ini, di beberapa titik jembatan, di tepi sungai, terlihat tumpukan sampah warga yang memang dibuang di situ. Sepertinya tepi sungai ini sudah dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat pembuangan sampah. Sangat disayangkan sungai yang mengalir di wilayah ini. Sepertinya sedang apes.


Trotoar Idaman Pejalan Kaki

The Next Taman Anyelir 3?

Tempat Sampah Tepi Jalan

Tidak Rela Kalau Zebracross Kosong

Perjalanan ini menyusur rel kereta menuju Jakarta. Beberapa kali kami sempat berhenti untuk sekedar melepas lelah. Setibanya di Citayam, segera kami mencari toko swalayan terdekat untuk mencari coklat batangan. Lumayan sebagai dopping energi, karena perjalanan menuju Jakarta masih panjang. Sedangkan Alfred dan selinya segera akan tiba di lokasi tujuan.

Perjalanan dari Sempur hingga Citayam ditempuh dalam waktu 1 jam. Di sini juga, kami berpisah dan saya melanjutkan solo touring ke Jakarta. Hari menjelang magrib memasuki Depok. Walhasil, kerlip lampu sepedapun mulai menjadi teman perjalanan. Beberapa bagian jalan yang dilalui cukup menantang. Ada beberapa lubang dalam yang membuat touring ini seperti Cross Country hanya saja berada di medan aspal bukan tanah merah.

Energi gowes pun semakin naik turun dan sempat harus berhenti lama di dekat fly over Kampus UI karena otot-otot kaki yang mulai menegang dan bakal resiko kram kalau dilanjutkan. Sambil menunggu otot kembali normal, saya memanfaatkan waktu dengan iseng merekam lalu lintas jalan dengan JVS camcorder. Padahal sedang euphoria dengan fungsi time lapse di camcorder.

Perjalanan berlanjut menyusur jalan utama bersaing bersama bus, truk, angkot dan sepeda motor. Keahlian mengendalikan sepeda dan keberanian mengambil kesempatan sangat diperlukan untuk menaklukkan rute ini. Yang bikin kesal adalah ketika harus sering mengerem karena angkutan umum yang sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Padahal ditahap ini, kecepatan sepeda sedang optimal dan saat kecepatan berkurang, menaikkan kecepatan lagi rasanya memaksa otot kaki dan pantat untuk bekerja keras.

Jalan panjang ini mulai terasa ringan setelah melewati kompleks Trunojoyo Mabes Polri. Dari lokasi ini hingga tempat finish, jalan yang ditempuh akan lebih bersahabat. Tanjakan dan turunan yang sebelumnya sangat menyiksa, kali ini terbayar dengan kontur jalan yang cenderung landai. Untuk menambah tenaga, beberapa kali harus berhenti untuk meneguk air dan memakan batangan coklat pembangkit tenaga.

Menjelang masuk kompleks Permata Hijau, perjalanan panjang ini terbayarkan. Rute Sempur - Permata Hijau yang ditempuh dengan gowes ini dapat diselesaikan dalam waktu 4 jam 30 menit. Catatan waktu ini lain kali tentu akan lebih baik lagi kalau tidak banyak berhenti di jalan. Prediksi saya, rute ini bisa ditempuh dalam waktu 3 jam 30 menit. Apapun yang terjadi, saya puas dengan capaian weekend kali ini. Petualangan dan pengalaman yang luar biasa. Lain kali akan menjajal rute ini lagi, setelah nyali kembali pulih tentunya.