Monday, 30 April 2012

Half Day in Singapore


Modern Airport: Changi

Trip Asia ini dimulai pada minggu, 29 April jam 10 pagi. Penerbangan menuju Hong Kong ini transit di Singapura selama setengah hari. Ini konsekwensi menggunakan budget airline seperti Jetstar.  Penerbangan menuju Singapura memakan waktu 3 jam. Tiba di bandara Changi jam 13 waktu setempat. 

Menurutku, Changi adalah bandara yang cozzy warm friendly. Semua informasi terpampang dengan jelas dan design serta tata letaknya dipikirkan dengan benar. Ini adalah kali kedua aku berada di Changi untuk transit. Dan juga merupakan kali pertama untuk masuk ke kota Singapura.

Ritual sebelum masuk kota adalah melewati imigrasi yang tentunya akan ditanya, mengapa datang ke Singapura, dan berapa lama akan tinggal. Dengan alasan untuk transit dan akan lanjut terbang besok pagi, membuat petugas imigrasi percaya dan membubuhkan cap imigrasi. Alasan ini bukan hasil rekayasa, karena ini adalah fakta naik budget airline.

Dari terminal penumpang, aku menggunakan Skytrain yang akan membawa sampai terminal T2 untuk berganti MRT. Penggunaan MRT ini cukup praktis, karena kita akan diantar menuju lokasi tanpa takut kesasar dengan harga yang wajar. Sebelumnya, aku mencari tiket EZ Link. Setelah mempertimbangkan, pilihan jatuh ke One Day Pass untuk turis. Ini adalah pilihan yang cukup masuk akal. Hanya perlu membaway 20 SGD. Biaya deposit kartu adalah 10 SGD dan sisanya untuk biaya bus dan kereta. Keuntungannya, kita bisa menggunakan kartu ini untuk menjelajah Singapura kemana saja. Tapi tidak untuk masuk Sentosa Island menggunakan kereta Sentosa Express.

Orang Cerdas Pilih MRT

Sebelum keluar ke kota, aku menyempatkan diri untuk mencari info what to see melalui fasilitas internet gratis di bandara. Sangat membantu, dan jadilah itinerary dadakan. Yang dicari pertama adalah tempat untuk sighseeing dan kedua adalah tempat makan murah. Pilihan kemudian jatuh untuk menyeberang ke Sentosa Island via Vivo Mall. MRT menuju Vivo tidaklah susah. Tinggal pelajari di stasiun mana saja harus pindah dan pindah ke jalur mana. Semua informasi terpampang dengan jelas. Tujuan pemberhentian MRT adalah Harbour Front.

Stasiun MRT tersebut berada di bawah Vivo mall. Penataan kota yang cerdas aku rasa. Sehingga membuat orang untuk menuju tempat perbelanjaan tidak perlu membawa kendaraan pribadi. Just take a train. Sepanjang perjalanan, aku disuguhi pemandangan kota yang tertata rapi seperti di Eropa. Bedanya, di setiap sudut pasti dengan mudah ditemukan kamera CCTV. Di Singapura menjadi pantangan untuk merokok sembarang tempat maupun meludah seenaknya karena kamera CCTV are watching on you. Tidak itu saja, mengambil video di stasiun MRT juga dilarang. Baru tahu.. heeh...

Berada di Vivo Mall yang diburu pertama adalah makan siang, karena sudah lapar sangat. Pilihan jatuh ke food court yang menawarkan paket makan seharga 4.50 SGD. Menu ini adalah black paper fish. Cukup mengganjal juga untuk memulai hari di Singapura.

Ritual perjalanan kemudian dilanjutkan untuk mencari informasi menuju ke Sentosa. Uniknya, mall ini terintegrasi jadi satu dengan ferry ke Batam, stasiun MRT, shelter bus dan sebuah mall. Lengkap sudah. 

Menghabiskan waktu di atap Vivo mall merupakan pilihan dadakan. Karena tertarik dengan hilir mudik aktitifas pelabuhan yang rapi dan jauh dari kesan kumuh dan kotornya pelabuhan seperti Jakarta. Yang membuat hati betah berlama di sini adalah adanya garden roof yang selain ada taman juga dilengkapi dengan kolam air untuk bermain atau sekedar merendam kaki. Kolam ini tidak untuk berenang karena memang dangkal. Kedalaman sekitar 30 - 50 cm. Penataan lokasi ini sungguh menakjubkan. Jalan yang digunakan perpaduan dari boardwalk dan semen.

Setelah puas melepas lelah dan merendam kaki. Penjelajahan menuju Sentosa Island pun berlanjut. Menuju lokasi stasiun Sentosa Express dan harus menggesek kartu. Ternyata tidak bisa aku lewat. Di monitor tertulis credit tidak cukup. Ups.. apakah ada yang salah. Segera aku menuju ke stasiun MRT terdekat dan menanyakan hal ini. Dari informasi mereka, ternyata One Day Pass yang aku bawa tidak bisa dipakai ke Sentosa Express. Well, OK deh. Berhubung jalan cukup jauh dari stasiun MRT yang ada di level basement dan stasiun Sentosa Express di Level 3 membuat aku mengalihkan tujuan ke Little India. 

Rencananya saat itu hendak menjelajah di sekitar Chinatown, Kampung Bugis. Dilihat dari peta, lokasi tempat belanja ini tidak jauh. Terpikir untuk mencoba jalan dengan carrier 11 Kg di bahu. Ups.. sepertinya ini bukan pilihan yang tepat. Tidak lama setelah naik MRT yang dengan jalur memutar cukup jauh, membuat rencana penjelajahan ini harus dikoreksi lagi. Jadilah hanya Little India saja dan mencari makan malam sebelum pulang ke Changi.

Little India to Hostel Changi

Mendengar namanya, tempat ini tentunya banyak dihuni orang etnis India. Dan memang begitu adanya. Tekka Market yang menjual berbagai barang ala India juga berdiri tidak jauh dari stasiun MRT. Mencari makan di dekat pasar adalah pilihan yang tepat. Selain tentu harganya terjangkau, aku tidak harus menggendong tas berjauh-jauh.

Pilihan tiba di sebuah kedai yang memampangkan harga ayam goreng sekitar 4.50 SGD. Harga yang masih masuk akal. Ditemani sebotol bir tanggung seharga 5.70 SGD. Sangat cocok untuk menutup hari di Singapura. Setelah perut terisi, aku harus bergegas kembali ke Changi, karena One Day Pass yang aku miliki hanya bisa dipakai sampai jam 23. Dan perkiraan aku, 1 jam pasti akan tiba di Changi.

Tiba di stasiun MRT, klaim deposit kartu seharga 10 SGD dan pergi menuju Skytrain untuk bermalam di Changi untuk mengejar penerbangan besok pagi jam 06.30. Pengelola bandara sepertinya sudah mempertimbangkan tempat istirahat bagi para penumpang. Terbukti untuk mencari tempat istirahat ini tidaklah susah. Berbagai icon bergambar orang duduk dengan kursi malas terlihat jelas di beberapa lokasi. Pilihan saat itu jatuh pada rest area yang berada di lantai 2 yang menghadap langsung ke apron. Berbekal dengan sleeping bag membuat malam dingin karena AC itu bisa dilalui dengan sukses.

Old and New Hong Kong


Menerobos Awan Hitam Changi

Setelah menjelajah Singapura selama 12 jam, perjalan menuju Hong Kong dimulai dari Changi. Menginap di Changi adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan malam tanpa harus menuju pusat kota dan menyewa kamar untuk istirahat. Di level 2 terminal 1 Changi, fasilitas ini sudah disiapkan dengan baik. Tidak senyaman tempat tidur di rumah, tapi cukup untuk tempat melepas lelah.

Jam 05.30, sudah bersiap diri sekenanya dan menuju gate C13 untuk boarding ke pesawat. Saat diperiksa sekuriti bandara, kunci mini peralatan sepeda yang ada di dalam tas dideteksi sebagai benda berbahaya, karena memiliki ujung lancip. Berdebat kusir sekenanya, dengan rela hati, kunci itu harus disita di Changi, which is aku membelinya saat di Jerman. Dan I have to say goodbye forever :)

Tanpa menunggu lama, penumpang segera boarding menuju Airbus Jetstar yang akan membawa ke Hong Kong. Penerbangan menuju Hong Kong disambut dengan hujan lebat di Changi. Saat take off, pesawat harus menerobos kepungan air dan awan tebal hitam di atas landasan pacu. Setelah menyelesaikan proses yang mendebarkan itu, ternyata langit di atas Changi cerah ceria. Penerbangan ditempuh dalam waktu hampir 4 jam dan ini adalah kesempatan yang cocok untuk melanjutkan mimpi indah.

Ni Hao Hong Kong

Tidur lelap itu terbangun ketika ada pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan segera mendarat di Hong Kong International Airport. Beberapa saat sebelum mendarat pesawat berguncang karena ada turbulensi kecil, layaknya sepeda motor yang melintas di atas polisi tidur di jalan kampung yang berjajar rapat siap menjebak mangsanya.

Pendaratan di Hong Kong tidak kalah serunya dari take off Changi. Saat mendarat ada angin samping dari sisi kiri pesawat yang membuat pesawat sedikit mengayun. Dari posisi duduk 22 F yang bisa melihat langsung ke luar jendela, terlihat pesawat mendekati landasan dengan posisi bergoyang. Agak seru juga mendapat pengalaman seperti ini, karena ternyata pesawat sebesar Airbus tidak mampu melawan benda yang namanya angin. Thank to God, pendaratan itu berjalan dengan lancar dan mendarat sempurna.

Penumpang menuju terminal kedatangan dengan dijemput dengan sebuah bus yang unik. Penumpang naik melalui sisi kanan bus, dan kemudian akan turun melalui sisi depan bus. Jadi muka bus ini ada pintunya, dan layaknya kapal feri saja yang mengeluarkan muatannya.

Menuju terminal adalah saat yang mendebarkan, karena harus melalui pintu imigrasi. Pertanyaan yang diajukan oleh petugas adalah untuk apa mengunjungi Hong Kong dan berapa lama akan tinggal. Standard seperti itu, tapi ternyata butuh ketenangan untuk menjawabnya.

Terminal Hong Kong masih kalah jika dibandingkan dengan Changi. Di HIA, terminal penumpang ini terasa modern dingin, dengan nuansa hitam, abu-abu dan silver. Menurut aku lebih nyaman terminal Changi, lebih hangat.

Berhasil keluar dari imigrasi. PR selanjutnya adalah reload Octopus card yang didapat dari Agung untuk kebutuhan mobilitas dengan MRT dan bus serta mencari Mobile SIM Card. Reload Octopus card tidak terlalu susah, karena dapat langsung dilakukan di counter tiket kereta di pintu keluar imigrasi. Sedangkan untuk mencari mobile card, harus sedikit berolah raga mencari toko yang bernama 7 Eleven. 

Setelah mobile card terhubung, akhirnya bisa SMS Yogi bahwa aku sudah di Hong Kong dan menuju ke kampus Polytechnic University. Berbekal peta gratis dari bandara, terlihat dengan jelas jalur MRT yang harus ditempuh. Menggunakan MRT harus transit di Shin Yi kemudian Nam Cheong dan baru berganti jalur menuju kereta menuju Hung Hom. Kampus Poly U terletak berseberangan dengan Poly U.

Sistem MRT Hong Kong sangat menakjubkan. Kondisi kereta yang nyaman dan informasi yang terpampang dengan jelas, sehingga memudahkan pendatang untuk menuju lokasi yang dicari.

Menjelajah Sisi Eropa

Hong Kong sebagai Special Administrative Region memiliki keunikan tersendiri. Nuansa Asia dan Inggris masih terasa kental di beberapa sudut kotanya. Penjelajahan ini dimulai dari menyusuri Avenue of the Star yang berada di tepi selat yang memisahkan Kowloon dan Hong Kong. Kampus Poly U berada di pulau Kowloon. Yang sebenarnya di sebut Hong Kong itu adalah bagian pulau lain yang dipisahkan oleh sebuah selat. Di sisi tersebut dikenal sebagai sisi kota tua. Beberapa sosok bangunan tua Eropa dan gaya China berpadu akur. Dari sisi Kowloon, berbagai nama perusahaan besar seperti HSBC, Samsung dan Lippo terpampang asyik di saat matahari terbenam. 

Sisa sore itu, kami habiskan dengan menikmati pemandangan Hong Kong beserta selat dan Avenue nya ditemani sebotol bir Tsingtao. Lengkap sudah pembuka hari pertama di Hong Kong.

Perjalanan itu kemudian dilanjutkan menyebrangi selat menuju pulau Hong Kong dengan tiket kapal seharga 6 HKD pulang pergi. Sisi Hong Kong ini memberikan pemandangan Eropa mini. Mengingatkan kenangan ketika berada di Belanda dengan apartemen dan gang kecilnya.

Fast Food ala Hong Kong

Menjelajah pulau ini tidak lengkap kalau tidak mencoba restoran lokal yang kami tidak tahu namanya karena bertuliskan mandarin. Restoran ini terletak di Gough Street. Sepanjang jalan ini, aku melihat sisi lain Hong Kong. Sebuah kota yang memang masih menyisakan sisi tradisional dengan pasar basahnya khas Asia, dan cafe kecil khas Eropa. 

Makan di resto ini harus antri. Resto tidak terlalu besar, tapi para penggemarnya lumayan banyak. Seporsi makan kari sapi dipatok 30 HKD dan segelas teh tarik panas. Ini adalah sajian pas untuk mengisi perut yang belum terisi nasi sejak dari Singapura.

Saking banyaknya yang antri, para pengunjung makan harus dalam tempo cepat. Dan tentunya makanan juga disajikan dalam hitungan kurang dari 5 menit. Saking cepatnya, sebelum selesai makan, bill sudah disodorkan. Selesai makan, tidak seperti layaknya resto Indonesia yang bisa bersantai dan ngobrol dahulu. Kita harus segera pergi secepat mungkin. Ini baru yang disebut resto fast food. Semua harus dilakukan serba cepat. Bahkan sebelum makanan sempat turun dari tenggorokan. Uniknya, ketika makan, kita berada satu meja dengan orang yang tidak dikenal.

Santap malam kari menutup malam perdana di Hong Kong. Perjalanan pulang menuju apartemen Yogi, diputuskan untuk menggunakan bus. Sekalin mencoba bus Hong Kong. Ternyata secara model dan pengoperasian, tidak beda dengan bus Eropa. Ketika naik, orang bisa membayar menggunakan kartu Octopus atau membayar cash seharga 10 HKD. Bedanya, bus yang berseliweran di jalan raya ini adalah bus tingkat. Yang mana ini adalah warisan Inggris banget. Tentunya dengan model modern.