Saturday, 17 March 2012

My Weekend: Mulung Sampah, Tanam Pohon dan Gowes

Sabtu, 17 Maret 2012. Jadwal weekend kali ini adalah main ke Bogor. Sengaja pergi ke Bogor karena ada ulang tahun Komunitas Peduli Ciliwung Bogor di Sempur. Niat pergi ke Bogor sudah dipersiapkan secara mental sejak sehari sebelumnya, tapi tidak dengan fisik.

Acara di Sempur, rencana dimulai jam 08.00. Menurut perhitungan, kalau gowes dari Permata Hijau menuju stasiun kereta Manggarai, maka saya perlu bangun pagi subuh jam 05.00. Untuk melancarkan niat ini, alarm HP sudah diset berdering jam 05.00. Namun apa daya, karena tidurnya saja sudah jam 01.00 dini hari, sepertinya gelagat akan kesiangan pun semakin bertambah besar. Dan dugaan itu benar-benar terjadi, saya bangun jam 07.00. Berarti sudah telat 2 jam khan? Hebatnya, jarak tempuh dari Permata Hijau menuju Manggarai dengan gowes memakan waktu sekitar 1 jam. 

Permata Hijau - Stasiun Bogor

Gowes dari rumah menuju stasiun Manggarai membutuhkan nyali besar. Bukan karena jaraknya, tapi karena sejak berangkat belum sarapan sama sekali. Untuk tenaga gowes, hanya mengandalkan satu gelas teh panas manis.

Jalanan pagi itu terasa lancar normal. Dari rumah berangkat jam 07.30 dan setengah jam kemudian sudah tiba di stasiun. Langsung deh bergegas menuju loket karcis Communter Line jurusan Bogor. 

Melihat jadwal keberangkatan kereta, sudah berharap bisa dapat kereta jam 08.15 atau paling tidak jam 08.30. Tidak disangka, ternyata kereta yang ditunggu datang 1 jam kemudian. Jadilah menunggu di stasiun dengan do nothing. Sebenarnya ada 2 kereta yang sudah diberangkatkan ke Bogor. Tapi sayang saja dengan tiket Commuter Line yang sudah dibeli Rp 14.000,- karena sepeda dihitung juga. Seandainya Commuter Line sudah ada gerbong khusus sepeda seperti di Belanda tentu akan menyenangkan bawa sepeda di kereta. Walaupun harus membayar double tidak masalah. Yang penting sepeda yang dibawa tidak mengganggu para penumpang yang naik dan turun kereta.

Tiba di Citayam, dapat teman gowes menuju Sempur. Kenalkan namanya Alfred bersama sepeda lipatnya. Beruntung dia bawa sepeda lipat, jadi tidak perlu pusing memposisikan sepeda di dalam kereta. Tinggal lipat dan taruh di pojokan dekat dengan pintu. Beres deh. 

Beberapa saat kemudian, kereta tiba di tujuan akhir, stasiun Bogor. Kedatangan kami disambut rintik hujan. Wew.. ini di luar prediksi. Dari rumah tidak membawa jas hujan. Tapi masih ada untungnya juga. Cover bag ada di tas. Maka untuk melindungi barang berharga di dalamnya, cover bag pun sudah terpasang sempurna di tas dan dengan mantap menyambut sang gerimis.

Menuju Sempur

Ini adalah kali pertamanya saya gowes di Bogor. Perjalanan sejak keluar stasiun sudah menantang. Pasalnya kami harus melawan arus gerombolan angkot hijau untuk menuju Taman Topi. Ini adalah cara yang paling mudah, tapi tetap harus waspada.

Rintik hujan tidak begitu deras membuat hawa kota Bogor sedikit dingin. Suasananya enak sekali. Cocok untuk bersepeda. Setelah melewati Taman Topi, tiba di lampu merah, kami mengarah ke kiri. Melintasi sisi depan Istana Bogor. Lokasi kegiatan sebenarnya tidak jauh dari Kompleks Kebun Raya dan Istana Bogor. Jadi, naik sepeda adalah pilihan yang tepat untuk menikmati perjalanan ini.

Setelah melalui lampu merah Istana Bogor, sepeda kami semakin melaju karena kontur jalan yang menurun menuju jembatan Jalak Harupat. Kegiatan KPC Bogor berada di dekat Kelurahan Sempur. Maka segera setelah melewati lapangan Sempur, kami menyusuri jalan tepi Ciliwung.

Dari Plastik Sampai Potongan Tulang

Perjalanan untuk menemukan lokasi kegiatan KPC, bisa dibilang tidak terlalu sulit. Dari jauh sudah terlihat kerumunan orang yang berada di tepi Ciliwung. Tiba di lokasi, ternyata acara pembukaan baru saja selesai. Acara ini adalah peletakan batu pertama tempat pengelolaan plastik Kelurahan Sempur.

Persiapan mental berikutnya adalah turun ke tepian Ciliwung dan mulai mulung sampah. Jangan kira mulung ini kita pakai alat seeprti pengait. Di acara mulung ini yang dibutuhkan hanya sepasang tangan pemberian Pencipta dan beberapa lembar karung. Cukup sederhana bukan?

Peserta mulung sampah ini peminatnya lumayan banyak. Ada sekitar 15 orang ikut serta mengambil sampah non organik yang berada di tepi Ciliwung. Berbagai jenis sampah dapat kita temukan di sini. Ada yang berupa plastik kemasan, pakaian, sepatu, batang tanaman hingga potongan tulang. Ups.. ada potongan tulang? Iya.. jangan salah, di Ciliwung kita bisa menemukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Contohnya ya, potongan tulang. Sepertinya pemilik tulang ini sebelumnya adalah sapi. Perkiraan saja dari bentuknya yang besar.

Para Pemulung Sampah

Barang Bukti Potongan Tulang


Bisa Buka Tambal Ban Tepi Ciliwung


Berkarung-karung sampah beragam jenis bercampur lumpur dan air berhasil dikarungkan dalam tempo 1 jam. Karung-karung yang terkumpul ini kemudian dibawa ke atas untuk selanjutnya akan diangkut oleh Dinas Kebersihan Bogor untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya yang layak. Mulung sampah kali ini, kami berhasil mengumpulkan 20 karung yang beratnya setiap karung rata-rata 25 Kg. Jadi berapakah total sampah yang telah dikumpulkan hari ini?

Makan Tumpeng dan Curhat Ciliwung

Perayaan ulang tahun KPC Bogor yang ke 4 tahun ini cukup berkesan, karena kami merayakannya di tepi Ciliwung lengkap dengan tumpeng nasi kuningnya. Seperti acara ulang tahun lainnya, acara dimulai dengan berdoa dan dilanjutkan dengan memakan bersama tumpeng yang sudah disiapkan. Pada kesempatan ini, Hapsoro sebagai perwakilan KPC Bogor memberikan potongan pertama kepada Ko Asun sang provokator Ciliwung.

Seusai formalitas ini, segeralah alas makan digelar untuk makan bersama dengan para peserta. Kali ini kita makan di atas lembaran daun pisang utuh yang dijadikan alas makan bersama. Menunya cukup beragam, ada nasi kuning, sambel goreng teri, telur rebus  sampai ke jajanan tradisional seperti singkong, jagung, pisang dan ubi. Sesi makanan kali ini terasa unik, karena terbatasnya tempat makan, jadi peserta yang akan mencicip hidangan harus dibagi ke dalam beberapa gelombang. Tidak ada yang mengatur sih, tapi sepertinya sudah bisa berjalan dengan sendirinya :)

Perhelatan ini semakin lengkap dengan adanya sesi Curhat Ciliwung. Pesertanya mulai dari Bogor, Depok, dan Jakarta. Pokok bahasan kali ini adalah tentang kasus pengurugan sempadan Ciliwung Kali Mulya yang dilakukan oleh pengembang Taman Anyelir 3 yang telah dibuktikan bersalah karena belum memiliki IMB tapi sudah berani membangun dan lagi mengubah bentuk sungai lagi. Amazing kalau Tukul bilang.

Curcol Ciliwung Mode ON


Tanam Beringin Tanam Masa Depan



Dalam waktu dekat ini Komunitas Ciliwung Depok Kali Mulya, akan kembali bergerak untuk mendekati instansi pemerintah terkait yang berwenang atas pengusutan kasus lingkungan Taman Anyelir 3 ini. Bentuknya seperti apa, wah.. sepertinya masih rahasia. Belum ada bocoran dari dapurnya :)

Diskusi ditutup dengan penanaman bibit beringin di tepian Ciliwung. Beringin ini nantinya akan memperkuat tebing sungai. Berfungsi sebagai tanggul sungai alami dalam beberapa puluh tahun ke depan. Hebatnya, penanaman bibit beringin ini juga melibatkan anak-anak. Alangkah indahnya jika generasi muda kita sudah dikenalkan pada semangat pelestarian lingkungan seperti ini.

Mencicip Rute Bogor Jakarta dengan Sepeda

Perjalanan kembali ke Jakarta kali ini benar-benar menantang. Bukannya naik kereta seperti rute berangkat, tapi gowes dari Sempur hingga Permata Hijau. Ini adalah rute terjauh kedua setelah rute Permata Hijau - Ciputat. 

Rute panjang ini akan ditempuh dengan Alfred bersama selinya dan saya bersama MTB. Perjalanan ini menempuh jarak 50 Km. Tentunya dengan rute yang belum pernah dijajal sebelumnya dengan cara gowes.

Semi touring sepeda ini ternyata menyenangkan. Selama perjalanan ada saja hal menarik yang sangat disayangkan untuk dilewatkan. Seperti contoh trotoar yang ideal untuk pejalan kaki, kami temukan di depan museum PETA di Jalan Sudirman Bogor. 

Memasuki arah ke stasiun Cilebut, kami disuguhkan pemandangan yang cukup menarik. Pengembang proyek perumahan yang memanfaatkan tepian sungai untuk lahan perumahan mereka. Apakah ini akan menjadi seperti kasus Taman Anyelir 3 session 2? 


Tidak jauh dari lokasi ini, di beberapa titik jembatan, di tepi sungai, terlihat tumpukan sampah warga yang memang dibuang di situ. Sepertinya tepi sungai ini sudah dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat pembuangan sampah. Sangat disayangkan sungai yang mengalir di wilayah ini. Sepertinya sedang apes.


Trotoar Idaman Pejalan Kaki

The Next Taman Anyelir 3?

Tempat Sampah Tepi Jalan

Tidak Rela Kalau Zebracross Kosong

Perjalanan ini menyusur rel kereta menuju Jakarta. Beberapa kali kami sempat berhenti untuk sekedar melepas lelah. Setibanya di Citayam, segera kami mencari toko swalayan terdekat untuk mencari coklat batangan. Lumayan sebagai dopping energi, karena perjalanan menuju Jakarta masih panjang. Sedangkan Alfred dan selinya segera akan tiba di lokasi tujuan.

Perjalanan dari Sempur hingga Citayam ditempuh dalam waktu 1 jam. Di sini juga, kami berpisah dan saya melanjutkan solo touring ke Jakarta. Hari menjelang magrib memasuki Depok. Walhasil, kerlip lampu sepedapun mulai menjadi teman perjalanan. Beberapa bagian jalan yang dilalui cukup menantang. Ada beberapa lubang dalam yang membuat touring ini seperti Cross Country hanya saja berada di medan aspal bukan tanah merah.

Energi gowes pun semakin naik turun dan sempat harus berhenti lama di dekat fly over Kampus UI karena otot-otot kaki yang mulai menegang dan bakal resiko kram kalau dilanjutkan. Sambil menunggu otot kembali normal, saya memanfaatkan waktu dengan iseng merekam lalu lintas jalan dengan JVS camcorder. Padahal sedang euphoria dengan fungsi time lapse di camcorder.

Perjalanan berlanjut menyusur jalan utama bersaing bersama bus, truk, angkot dan sepeda motor. Keahlian mengendalikan sepeda dan keberanian mengambil kesempatan sangat diperlukan untuk menaklukkan rute ini. Yang bikin kesal adalah ketika harus sering mengerem karena angkutan umum yang sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Padahal ditahap ini, kecepatan sepeda sedang optimal dan saat kecepatan berkurang, menaikkan kecepatan lagi rasanya memaksa otot kaki dan pantat untuk bekerja keras.

Jalan panjang ini mulai terasa ringan setelah melewati kompleks Trunojoyo Mabes Polri. Dari lokasi ini hingga tempat finish, jalan yang ditempuh akan lebih bersahabat. Tanjakan dan turunan yang sebelumnya sangat menyiksa, kali ini terbayar dengan kontur jalan yang cenderung landai. Untuk menambah tenaga, beberapa kali harus berhenti untuk meneguk air dan memakan batangan coklat pembangkit tenaga.

Menjelang masuk kompleks Permata Hijau, perjalanan panjang ini terbayarkan. Rute Sempur - Permata Hijau yang ditempuh dengan gowes ini dapat diselesaikan dalam waktu 4 jam 30 menit. Catatan waktu ini lain kali tentu akan lebih baik lagi kalau tidak banyak berhenti di jalan. Prediksi saya, rute ini bisa ditempuh dalam waktu 3 jam 30 menit. Apapun yang terjadi, saya puas dengan capaian weekend kali ini. Petualangan dan pengalaman yang luar biasa. Lain kali akan menjajal rute ini lagi, setelah nyali kembali pulih tentunya.