Sunday, 6 November 2011

Jakarta - Bogor [Bike and Train Chapter]

Berkendara menggunakan sepeda merupakan hal yang menakutkan di Jakarta. Betapa tidak, jika kita bersepeda, otomatis akan berada pada jalur yang sama dengan bus, mobil dan sepeda motor. 

Petualangan kali ini adalah perjalanan yang menantang, karena saya berencana main ke rumah teman di daerah Bogor dengan sepeda. Pilihan pertama, mengayuh dari Jakarta. Tentu ini adalah pilihan yang menantang, bisa disebut mini touring. Pilihan kedua, adalah menggunakan kereta. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya menggunakan kereta adalah pilihan yang cerdas. Perjalanan ini direncanakan mulai dari pagi. Tapi karena semalam begadang, walhasil bangun jadi kesiangan. Siang bolong di Jakarta, naik sepeda sampai Bogor? Hmm.. tentu akan menguras energi yang banyak. 

 Mulailah petualangan di mulai dari Permata Hijau menuju stasiun kereta terdekat, yaitu Manggarai. Menggunakan Dominate 011, perjalanan itu ditempuh dalam waktu 40 menitan. Praktis tidak ada hambatan, karena memang hari minggu, kondisi jalan masih lengang. Ini adalah kali pertama saya menggunakan kereta dengan membawa sepeda. Tentu bukan perkara yang mudah, karena Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek belum memiliki gerbong khusus sepeda seperti di Belanda atau Jerman. Kondisi ini membuat kita harus pandai-pandai meletakkan sepeda agar tidak mengganggu penumpang yang naik dan turun. Atas dasar pertimbangan inilah, saya memilih Commuter Line. Sebuah kereta AC dengan harga tiket Rp. 7.000,- per orang. Karena sepeda dibawa, jadi harus bayar Rp. 14.000,- Setelah menunggu sekitar 30 menit. 

Dari arah Gambir datanglah kereta yang ditunggu. Sasaran pertama adalah menuju gerbong bagian belakang, karena tentu hilir mudik penumpang pasti tidak seramai gerbong bagian depan. Eits.. ternyata dugaannya tidak meleset. Gerbong bagian belakang memang agak longgar. Banyak faktor penyebabnya sih, tapi kita anggap saja seperti itu. Resiko membawa sepeda di kereta adalah B.E.R.D.I.R.I.

Yup... berdiri walaupun sudah memegang tiket, itu adalah resikonya. Setiap saat saya harus menyesuaikan posisi sepeda agar tidak menghalangi keluar masuk penumpang. Mulai dari Manggarai, sepeda saya letakkan di pintu sebelah kiri, karena akses penumpang ada di pintu sebelah kanan. Setelah melewati stasiun Depok Baru, posisi sepeda harus berpindah lagi, ke tengah. Ya, karena setelah Depok Baru hingga Bogor, pintu kereta akan dibuka dua-duanya. Well... harus ada harga yang harus dibayar, tapi setidaknya kena AC jadi lumayan nyaman.

Perhentianku adalah stasiun Cilebut. Setelah berdiri menahan beban tubuh dan sepeda, akhirnya tiba juga di Cilebut. Dari stasiun, perjalanan kemudian berlanjut menyusuri jalur angkot menuju ke perumahan Sinbad, sekitar jalan Baru Bogor. Perjalanan ini ditempuh sekitar 20 menitan. Tujuannya adalah rumah teman untuk rapat.

Ritual itu kembali terbayang di kepala sesaat sebelum pulang ke Jakarta. Pilihannya sekarang adalah menggunakan kereta AC atau ekonomi. Dan tentunya, saya lebih memilih berangkat dari Cilebut, karena berdasarkan jarak lebih dekat dibandingkan ke stasiun Merdeka Bogor. Resikonya adalah jika kereta penuh, karena ini hari minggu dan sudah larut malam. Tapi semangat bertualang tetap membara, kondisi apapun harus dijalani. Jika harus mengayuh dari Cilebut ke Jakarta, tidak ada salahnya dicoba. Nekad memang.

Berangkat dari komplek Sinbad, melalui jalan kampung yang lumayan bergelombang. Hitung-hitung uji coba cross country. Sepeda yang dibawa memang dirancang untuk menghadapi jalan berlubang tidak karuan seperti ini. Jadi berbagai lubangpun dengan aman bisa dilibas. Lumayan bisa sedikit pamer ke pengendara sepeda motor yang harus mengurangi kecepatan jika bertemu jalan rusak atau polisi tidur.

Perjalanan mini cross country selama 20 menit yang menantang, akhirnya membawa saya kembali di Cilebut. Menuju loket karcis, ternyata kereta paling dekat adalah ekonomi dengan harga Rp. 2.000,- per orang dan Rp. 4.000,- dengan sepeda. Ekonomi... yang terbayang pasti penuh sesak penumpang dan pedagang asongan. Tapi, keputusan harus dibuat segera. "Bang, ekonomi Jakarta dua." Ya.. segera kedua karcis itu sudah berpindah ke tanganku. Menanti di jalur 2, tidak berapa lama kemudian kereta ekonomi berhenti di Cilebut. Gerbong demi gerbong yang melewatiku terlihat padat penumpang. "Bakal tidak bisa masuk nih.." batinku.

Well, the show must go on. Segera saya melangkah masuk menuju gerbong kereta. Setelah sebelumnya mendahulukan penumpang lain. Targetku adalah mencari posisi yang tidak terlalu banyak menghalangi jalan. Pilihan jatuh pada pintu masuk kereta. Berdasarkan pada pengalaman sebelumnya. Resikonya, beberapa kali penumpang harus bersenggolan dengan sepeda. Ada juga yang memasang ekspresi tidak nyaman karena jalan terhalang roda sepeda. Ya.. maaf.. memang kondisinya seperti itu.

Kembali B.E.R.D.I.R.I dari Cilebut ke Manggarai. Tapi sepanjang perjalanan, terasa tidak melelahkan karena mendapat teman ngobrol, seorang bapak yang juga suka bertualang. 

Setibanya di Manggarai, setidaknya memberikan sedikit rasa lega. Pasalnya tidak harus berdiri lebih lama dan bisa segera mengayuh Dominate ke rumah. Perjalanan kembali ke rumah tidak begitu sulit bagiku, karena memang kondisi jalan yang tidak terlalu ramai.

Itulah pengalaman membawa sepeda dengan kereta untuk pertama kali. Jika memungkinkan, akan mencoba bertualang ke lokasi lain bersama Dominate. Tunggu tulisan saya berikutnya. Salam Sepeda :)

No comments:

Post a Comment